Langsung ke konten utama

RERANGKA KONSEPTUAL USA vs INDONESIA

RERANGKA KONSEPTUAL USA vs INDONESIA




IAI mengambil kebijakan untuk mengadopsi rerangka konseptual yang disusun oleh IASC sebagai dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan. Kebijakan tersebut disetujui oleh Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal 24 Agustus 1994 dan disahkan oleh Pengurus Pusat IAI pada tanggal 7 September 1994. IAI menamakan rerangka konseptual Indonesia dengan istilah “Rerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan”. Secara ringkas penjelasan sebagai berikut :





a. Tujuan Dan Ruang Lingkup



Tujuan rerangka konseptual tersebut pada intinya sejalan dengan tujuan rerangka konseptual milik FASB. Tujuan rerangka konseptual (konsep dasar) adalah untuk membantu berbagai pihak dalam mencapai tujuan berkaitan dengan masalah akuntansi yang muncul. Rerangka konseptual dapat digunakan sebagi acuan berbagai pihak yaitu :



Komite penyusun standar akuntansi keuangan dalam pelaksanaan tugasnya;



Penyusunan laporan keuangan, untuk menanggulangi masalah-masalah akuntansi yang belum diatur dalam standar akuntansi keuangan;



Auditor, dalam memberikan pendapat mengenai apakah laporan keuangan disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum; dan



Para pemakai laporan keuangan, dalam menafsirkan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan yang disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan.





b. Tujuan Dan Pemakaian Laporan Keuangan



Tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang berkaitan dengan posisi keuangan, prestasi (hasil usaha) perusahaan, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.



Pemakai laporan keuangan menurut IAI adalah : (1). investor. Informasi dibutuhkan untuk menentukan akan membeli, menahan, atau menjual investasi (informasi terpenting berkaitan dengan kemampuan perusahaan untuk membayar dividen);(2) kreditor. Informasi akuntansi dibutuhkan untuk memutuskan pemberian pinjaman dan bunga; (3) pemasok. Informasi akuntansi dibutuhkan untuk menilai kemampuan perusahaan untuk melunasi utang-utangnya pada saat jatuh tempo; (4) karyawan. Informasi akuntansi dibutuhkan berkaitan dengan stabilitas, profitabilitas, kemampuan memberi pensiun, dan kesempatan kerja; pelanggan. Informasi akuntansi dibutuhkan untuk mengetahui kelangsungan hidup perusahaan terutama jika ada perjanjian jangka panjang dengan perusahaan; pemerintah. Informasi akuntansi dibutuhkan untuk mengatur aktivitas perusahaan, menetapkan kebijakan pajak, menyusun statistik pendapatan nasional, dll; serta masyarakat. Informasi akuntansi dibutuhkan untuk mengetahui perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan.





c. Asumsi Dasar



Dasar akrual. Atas dasar asumsi ini, pengaruh pristiwa atau transaksi diukur dan diakui/dicatat dalam laporan keuangan pada saat terjadinya, bukan pada saat diterima atau dikeluarkannya kas.



Kelangsungan hidup. Atas dasar asumsi ini perusahaan akan hidup terus dan akan melanjutkan usahanya di masa mendatang atau dengan kata lain, perusahaan dianggap tidak bermaksud melikuidasi usahanya dan memperkecil atau mengurangi secara material skala usahanya.





d. Karakteristik Kualitatif Dan Kendala Informasi



Karakteristik kualitatif IAI sama dengan FASB yaitu : dapat dipahami (understandability), relevan, kandalan (reliability), dan daya banding (comparability). Masing-masing elemen kualitas tersebut juga sangat tergantung pada kualitas lainnya seperti yang diungkapkan oleh FASB. Misalnya, relevan dipengaruhi oleh kualitas predictive value, feedback value, dan timeliness.



IAI juga mengakui adanya kendala dalam penyajian informasi yang memenuhi kualitas informasi di atas. Kendala tersebut meliputi ketepatan waktu penyajian, keseimbangan antara biaya dan manfaat, dan keseimbangan antara biaya dan manfaat, dan keseimbangan diantara karakteristik kualitatif.





e. Elemen Laporan Keuangan

Jika FASB ada sepuluh elemen, IAI hanya mengakui 5 elemen laporan keuangan, yaitu :

Aset adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dimasa depan diharapkan akan diperoleh perusahaan (p 49a);



Kewajiban merupakan utang perusahaan masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu, penyelesaiaannya diharapkan mengakibatkan aliran kas keluar dari sumber daya perusahaan yang mengandung manfaat ekonomi (p 49d);



Ekuitas adalah hak residu atas aset perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban (p 49c);



Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selam satu perioda akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal (p 70a); dan



Beban (expenses) adalah penurunan manfaat ekonomi selama satu perioda akuntansi dalam bentuk aliran keluar atau berkurangnya aset atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanaman modal (p 70b).





f. Pengakuan Dan Pengukuran



Pengakuan artinya pos-pos terdefinisi (dengan kata-kata) dan jumlah rupiah tertentu dicantumkan dalam neraca atau laporan rugi laba. Kriteria pengakuan yang dikemukakan oleh IAI lebih sederhana dibandingkan FASB. Menurut IAI, pos yang memenuhi definisi elemen laporan keuangan harus diakui apabila (p 83) : ada kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang berkaitan dengan pos tersebut akan mengalir dari atau ke dalam perusahaan dan pos tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.



Pengukuran adalah proses penentuan jumlah rupiah untuk mengakui dan memasukkan setiap elemen laporan keuangan ke dalam neraca atau laporan rugi laba. Dasar pengukuran tersebut adalah (p 100):



Kos historis (historical cost). Aset dicatat sebesar pengeluaran kas (atau setara kas) yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan (consideration) yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut pada saat perolehan. Kewajiban dicatat sebesar jumlah yang diterima sebagai penukar dari kewajiban (obligation) atau ke dalam keadaan tertentu (misalnya, pajak penghasilan), dalam jumlah kas (atau setara kas) yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha yang normal.



Biaya terkini (current cost). Aset dinilai dalam jumlah kas (atau setara kas) yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut pada saat sekarang. Kewajiban dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang tidak didiskontokan (undiscounted) yang mungkin akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban (obligation) sekarang;



Nilai realisasi/penyelesaian (realizable/statement value). Aset dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang dapat diperoleh sekarang dengan menjual aset dalam pelepasan normal (orderly disposal). Kewajiban dinyatakan sebesar nilai penyelesaian : yaitu, jumlah kas (atau setara kas) yang tidak didiskontokan yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal; dan



Nilai sekarang (present value). Aset dinyatakan sebesar aliran kas masuk bersih di masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang dari pos yang diharapkan dapat memberikan hasil dalam pelaksanaan usaha normal. Kewajiban dinyatakan sebesar aliran kas keluar bersih di masa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang yang diharapkan akan diperlukan untuk menyelesaikan kewajiban dalam pelaksanaan usaha normal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Daftar Mahasiswa/i Akuntansi Reguler UNP TM 2007

NO.SPMB nama NIM 2071301561 SAUR DAMANIK 84365 2071400608 NOFRIDO RENALDO 84369 2071400907 MILCIA T 84370 2071401101 AGA ARYE PERDANA 84371 2071401353 MEILIDA AULY RAHMI 84372 2071401562 RAHMAH FELANILLA 84373 2071401797 RANI OKTIVANI 84374 2071402194 HELFA KHUSTINA 84375 2071402209 ULIANI ARIFAH 84376 2071402607 YENIKA JONIVER 84377 2071402704 FUJI KARDILA 84378 2071403109 RITA FITRIA 84379 2071403154 ADRIZAL 84380 ...

Definisi Budaya Organisasi

Budaya merupakan sejumlah pemahaman penting seperti norma, nilai, sikap, dan keyakinan yang dimiliki bersama oleh anggota organisasi. Budaya sebagai suatu pola asumsi dasar yang dimiliki bersama yang didapat oleh kelompok ketika memecahkan masalah penyesuaian eksternal dan integrasi internal yang telah berhasil dengan cukup baik untuk dianggap sah dan oleh karena itu, diharapkan untuk diajarkan kepada anggota baru sebagai cara yang tepat untuk menerima, berpikir, dan merasa berhubungan dengan masalah tersebut. Jadi, budaya organisasi adalah bagaimana organisasi belajar berhubungan dengan lingkungan yang merupakan penggabungan dari asumsi, perilaku, cerita, mitos, ide, metafora, dan ide lain untuk menentukan apa arti bekerja dalam suatu organisasi (Veithzal, 2008). Budaya mengandung apa yang boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan sehingga dapat dikatakan sebagai suatu pedoman. Pada dasarnya Budaya organisasi dalam perusahaan merupakan alat untuk mempersatukan setiap individu yang...

Skeptisme Profesional Auditor

Standar umum yang ketiga dari standar auditing menyatakan bahwa ”Dalam melaksanakan audit dan penyusunan laporannya auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama” (SA Seksi 230, paragraf 1). Penggunaan kemahiran profesional dengan cermat dan seksama menuntut auditor untuk melaksanakan skeptisme profesional. Skeptisme berasal dari kata skeptis yang berarti kurang percaya atau ragu-ragu (Echol & Shadily. 2003:529). Dengan sikap skeptisme profesional auditor ini, auditor diharapkan dapat melaksanakan tugasnya sesuai standar yang telah ditetapkan, menjunjung tinggi kaidah dan norma agar kualitas audit dan citra profesi auditor tetap terjaga. Skeptisme profesional auditor adalah suatu sikap (attitude) dalam melakukan penugasan audit. Skeptisme professional perlu dimiliki oleh auditor terutama pada saat memperoleh dan mengevaluasi bukti audit. Auditor tidak boleh mengasumsikan begitu saja bahwa manajemen adalah tidak jujur, tetapi kemungkinan bahwa...